Sabtu, 28 Agustus 2010

ATURAN PEMBERIAN OBAT


SEPULUH ATURAN TERBAIK PEMBERIAN OBAT SECARA AMAN

Sebagai seorang perawat kita sebaiknya sadar akan faktor-faktor penyulit dalam pemberian obat di rumah sakit saat ini. Sebagai contoh, kita mempunyai kesulitan mengingat sejumlah besar kegunaan obat ataupun efek sampingnya. Sedangkan kita dibebani banyak tanggung jawab dalam waktu yang singkat. Kita di rumah sakit mempunyai resiko tanggung jawab secara legal bila ada kesalahan dalam pemberian obat.

Meskipun pemberian obat merupakan salah satu masalah dalam tanggung jawab perawat, kita berharap ada pedoman-pedoman tertentu yang dapat menghindarkan kita dari suatu resiko kesalahan. Penulis (Kathleen Mc.Gowen, RN, BSN) menyebut pedoman tersebut sebagai “10 Aturan Terbaik Dalam Pemberian Obat”.

Untuk melengkapi makalah ini, kami akan mulai membahas mengenai :

1.  Nama, Klasifikasi dan Type Obat
a. Nama
Satu jenis obat mempunyai beberapa macam nama : nama generik, official name, nama kimia dan nama dagang. Nama generik diberikan sebelum obat menjadi official. Nama official diberikan setelah dikemas dan sebelum obat dipublikasikan. Nama kimia berdasarkan kandungan zat kimia pada obat yang bersangkutan. Nama dagang adalah nama yang diberikan oleh perusahaan yang membuatnya. Sebagai contoh, obat hydrochlorothiazide (nama official) dikenal dengan nama dagang Esidrix.

b. Klasifikasi
Obat-obat diklasifikasikan menurut kegunaan, komposisi dan efek sampingnya.

c. Macam Penggunaan/Type Obat
Obat dapat diberikan melalui beberapa cara antara lain oral, parenteral, sublingual, dan sebagainya.


2. Langka-Langka Pemberian Obat
Lima langka dalam pemberian obat :
a. Identifikasi pasien
Di rumah sakit biasanya sebelum obat diberikan, perawat harus mengidentifikasi nama pasien, memberi nomor untuk mencegah kesalahan, kemudian menanyakan kembali nama pasien atau menyebutkan dengan jelas nama pasien selanjutnya mendengarkan respon pasien sebelum obat diberikan.

b. Pemberian obat
Penting untuk memberikan obat secara benar. Instruksi dan daftar pengobatan harus dibaca secara hati-hati serta dicek kembali nama obat dan keberadaanya di tempat obat pasien. Pengobatan harus diberikan dengan dosis dan cara yang benar.

c. Intervensi perawat
Pasien membutuhkan pertolongan saat menerima pengobatan. Bantuan fisik sebagai contoh : memberikan posisi yang nyaman sebelum penyuntikan intra muskuler atau penjelasan tentang pengobatan dan petunjuk pemakaian obat yang efektif dan cara mencegah komplikasi.

d. Pencatatan
Pencatatan harus dilakukan secara lengkap dalam status pasien. Hal yang dicatat adalah : nama obat, dosis, cara pemberian dan data spesifik yang berhubungan dengan pemberian obat seperti denyut nadi harus diobservasi setelah pemberian obat digital. Pencatatan juga meliputi waktu pemberian dan yang terpenting adalah nama jelas dan tanda tangan perawat yang memberikan.

e. Evaluasi respon pasien
Respon terhadap pengobatan dapat diobservasi secara langsung pada pemberian intra vena, 10 - 20 menit setelah pemberian IM atau subkutan atau beberapa hari setelah pemberian oral. Perubahan tingkah laku dapat dikaji, misalnya pada pemberian tranquilizer atau rasa nyeri pasien dapat dikaji beberapa saat saetelah pemberian anti spasmodik.

Semua langkah pemberian obat, mulai menyiapkan obat sampai mengkaji keefektifan obat harus dicatat dan bila perlu dilaporkan pada perawat senior atau dokter.


3.  Petunjuk Pemberian Obat

Mencek kembali kebenaran instruksi pengobatan yang diberikan.
Sebelum pemberian perawat harus tahu tentang obat itu sendiri.
Pencatatan yang dilakukan meliputi : nama pasien, obat, nama dokter, tanggal, waktu pemberian, dosis, dan tanda tangan orang yang memberikan.
Kartu pengobatan biasanya memuat nama pasien, ruangan, nomor tempat tidur, nama obat, dosis, waktu dan cara pemberian. Juga dicantumkan tanggal instruksi diberikan.
Perawat harus konsentrasi pada tugas untuk menghindari kesalahan penyiapan dan pemberian obat.
Lima (5) benar petunjuk pemberian obat : benar obat, benar dosis, benar pasien, benar waktu, dan benar cara.
Obat yang disiapkan harus sesuai dengan  cara pemberian.
Untuk mencegah kesalahan saat penyiapan obat, perawat harus membaca lebel 3 X, sebelum mengambil dari tempatnya, saat memberikan dan saat menyimpannya kembali. 
Saat menyiapkan pengobatan jangan gunakan hal berikut :
Obat yang tidak mempunyai nama atau lebel.
Obat telah berubah warna/rusak.
Obat yang tetap ada endapannya meskipun sudah dikocok sebelum digunakan.
Kembalikan obat-obat tersebut ke bagian farmasi dan tuliskan alasan pengembaliannya.

Jangan kembalikan atau pindahkan obat dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menghindari bercampurnya obat dan kesalahan tempat.
Identifikasi pasien secara benar dan hati-hati.
Pasien mempunyai hak untuk mengetahui nama obat dan cara kerjanya. Juga berhak untuk menolak pengobatan dan alasan penolakan harus dituliskan dan dilaporkan.
Lakukan tindakan yang benar sebelum pengobatan. Contoh : observasi nadi apikal sebelum pemberian digitalis dan jangan berikan bila frekwensinya <60 X / menit.
Perawat harus berada di samping pasien saat pemberian obat.
Berikan obat sesuai waktu yang ditetapkan.
Jika pasien muntah saat diberikan obat peroral, catat hal tersebut dan nama obatnya. Laporkan segera kepada dokter. Biasanya dokter akan memberikan obat yang sama dengan cara yang berbeda.
Tindakan khusus biasanya dilakukan pada pemberian obat-obat tertentu.
Setelah pemberian obat catat di kartu pengobatan pasien. Pencatatan meliputi waktu, nama obat, dosisi, cara pemberian dan data lain yang berhubungan dengan pemberian obat.
Lihat petunjuk singkat yang tertera dalam brosur.
Evaluasi keefektifan obat pada waktu yang tepat setelah pemberian.
Pengobatan biasanya dihentikan sebelum operasi dan dokter menulis instruksi baru setelah operasi.
Ketika pemberian obat dihentikan sementara karena akan operasi/dilakukan tindakan diagnostik, tuliskan alasan penghentian tersebut dengan jelas pada catatan pengobatan pasien.
Kesalahan pengobatan kadang terjadi. Bila sudah terjadi kesalahan laporkan segera sebagai pertanggungjawaban perawat dan untuk penanganan segera. Kesalahan biasanya dicatat dalam formulir khusus.

Jika kita mempunyai pertanyaan tentang suatu jenis obat, bertanyalah kepada seorang farmasi, konsul dengan seorang dokter atau baca buku referensi yang bagus tentang obat, atau bicarakan dengan teman perawat jika kita tidak mengenal obat yang diinstruksikan. Tetapi jika instruksinya sendiri yang kurang jelas, yakinkan dengan mengklarifikasi sumbernya yaitu dokter yang menulis instruksi tersebut.

Sebagai contoh : Mary Dixon tergesa-gesa memberikan pengobatan pada jam 10.00 pagi. Dia dengan sekejap mata melihat catatn pemberian obat (MAR) dan memberitahu bahwa dokter menginstruksikan Ampicillin 500 mg untuk Tuan Stone. Ampicillin tidak ada di laci obat Tuan Stone. Jadi dia (Mary) mengambilnya dari laci persediaan. Malangnya instruksi dokter yang disalin di dalam MAR tidak benar/salah. Dokter sebenarnya ,menginstruksikan Amoxicillin bukan Ampicillin.

Itulah sebabnya mengapa banyak rumah sakit menentukan/mengharuskan perawat dinas malam mencek 2 X MAR dengan instruksi yang asli. Bila obat tidak ditemukan di laci obat pasien, Mary seharusnya melakukan pengecekkan 2 X.

OBAT ANALGETIK ANTIPIRETIK


OBAT ANALGETIK ANTIPIRETIK

Serta obat Anti-inflamasi Nonsteroid merupakan suatu kelompok yang heterogen , bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi.
Tetapi obat-obat ini memiliki persamaan dalam efek terapi dan efek samping obat.
Prototip obat golongan ini adalah Aspirin karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip Aspirin, ( = Aspirin-Like Druds). Kita mengenal juga obat mirip Atropin ( Atropin - Like Drugs)
Mekanisme kerja obat mirip aspirin sebagian besar memiliki mekanisme kerja :
menghambat Biosintesis Prostaglandin atau menghambat produksi enzimatik prostaglandin.
Mekanisme kerja ini ditemukan oleh Vane dan kawan-kawan pada tahun 1971.
Prostaglandin dalam tubuh terdapat pada berbagai jenis organ dan tempat bekerjanya berbeda-beda, serta saling mengadakan interaksi dengan Autakoid.
Autos (= self)  Akos (= remedy) berasal dari Bahasa Junani , misalnya : Histamin, Serotonin. Tidak menghentikan, memperbaiki atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan Muskuloskeletal.


EFEK SAMPING OBAT
Karena obat-obat ini bersifat asam sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel-sel yang bersifat asam seperti pada :

·        Lambung
·        Ginjal
·        Jaringan Inflamasi

Yang sering terjadi ialah :

·        Induksi tukak lambung
Kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna.
·        Iritasi lambung
·        Gangguan fungsi Trombosit -----------  perpanjangan waktu perdarahan.
·        Reaksi hipersensitif terhadap aspirin dan obat mirip aspirin.

PEMBAGIAN OBAT
1. Golongan besar Asam Karboksilat
·        Derivat asam salisilat
·        Derivat asam propionat
·        Derivat asam fenamat
·        Derivat asam fenilasetat
·        Derivat inden/indol

2. Golongan Besar Asam Enolat
·        Derivat pirazolon
·        Derivat oksikam

3. Golongan sisa
·        Derivat para aminofenol

Pemberian aspirin peroral :
Dengan disertai minum banyak air, susu atau dekat pada waktu akan makan untuk mengurangi iritasi pada lambung.

Para perawat harus memperhatikan pada waktu memberikan aspirin pada pasien terhadap kemungkinan interaksi obat dengan zat-zat tersebut diatas.



KEPUSTAKAAN

Dewantoro Utomo,Drs., Farmakologi dan terapeutika, Akademi perawatan st. Carolus, Jakarta  1993.

ABSORSI OBAT

Faktor yang mempengaruhi Absorbsi Obat :
    Sifat  fisika – kimia obat.
    Sifat Sterro kimia dalam kelarutan.
    Besar fartikel
    Sediaan obat
    Dosis
    Rute Pemberian dan tempat pemberian
    Waktu kontak dengan permukaan
    Besarnya luas permukaan
    Sifat pH dalam darah
    Integritas Membran
    Aliran Darah organ.

Absorbsi melalui Rute Bucal atau Sublingual  :
    Memiliki sifat absobrsi yang baik untuk senyawa yg tak terironisasi, Lipopil.
    Keuntungan
§         Munculnya kerja obat yang cepat
§         Tidak ada kerja cairan pencernaan.
§         Bahan obat tidak harus melewati hati segera setelah diabsorbsi
    Kerugian
§         Hanya mungkin untuk senyawa yang dapat diabsorbsi dengan mudah .
§         Tidak boleh untuk obat yang rasanya tidak enak.
    Indikasi
§         Untuk pengobatan serangan angina pectoris dengan Nitrogliseril.
(Tablet kunyah, Aerosol).

Absorbsi pada pemakaian Parenteral.
q       Pemakaian: IC , SC , IM, IV,
-         Kecepatan absorbsi sangat bergantung kepada pasokan darah.
-         Pada keadaan syok, absorbsi sangat menurun

Absorbsi Melalui Rute Oral .
    Absorbsi dalam saluran cerna mempunyai arti besar.
    Dalam lambung: harga pH sangat asam teruta Asam lemak dan zat netral yang limpofil.
    Waktu beradanya bahan obat dalam lambung bergantung kepada :
-         Kondisi pengisian
-         Keberadaan bahan lain dalam lambung.
    Bahan yang peka terhadap asam lambung harus dilindungi ( salut ).
    Usus halus merupakan organ absorbsi terpenting :
Waktu perlewalatan untuk absorbsi cukup.
    Usus besar
-         Permukaan absorbsi lebih kecil
-         Kemempuan absorbsi lebih rendah.
*  Antibiotika sebaiknya diberikan pada saat lambung kosong untuk memenuhi konsentrasi yang diperlukan untuk memenuhi kuman.
*  Susu  +  tetra cyclin  à  konsentrasi akan kurang, karena susu mengandung kalsium.

Absorsi Pemakaian Melalui Rektum  :
    Alur melalui hati primer dihindari 
    Absorbsi dalam 2/3 bagian bawah rektum langsung mencapai vena forta.
    Koefesien absorbsi lebih rendah dari pada pemakaian oral.
    Perbedaan dalam individu dan antar individu, ada.

Absorbsi Pemakaian melalui Hidung  :
    Sifat absorbsi mukosa hidung cukup baik seperti mukosa mulut.
     Cocok untuk terapi topikal untuk mengurangi pembengkakan mukosa.
    Kemungkinan dapat terjadi akibat absorbsi  :
*  Efek  sistemik
=  Tetes hidung  :  Alfa – Simpato mimetika
*  Bubuk hisap  ADH untuk therapi diabetes insipidus.

Mekanisme Hidung tersumbat    :
            Karena vasodilator akibat adanya histamin à  peningkatan permibialitas    à
            Hidung tersumbat.

Absorbsi Pemakaian pada Kulit.
    Secara Fisologis tidak memiliki fungsi absorbsi
    Absorbsi terjadi secara : Trasdermal, Trans folikuler
    Kemampuan absorbsi kulit utuh lebih rendah dibanding melalui mukosa
    Faktor yang mempengaruhi absorbsi kulit :
-         Kenaikan suhu kulit
-         Rangsangan penyebab hiperemi
-         Zat pelarut tertentu
-         Peradangan pada kulit.
    Pada bayi dan anak kecil : Stratum corneum masih sedikit, absorbsi meningkat
    Pada usia tua, stratum korneum tipis absorbsi kemungkinan menigkat.
    Sebagai tempat pemberian untuk bentuk sediaan yang cocok.
    Hanya cocok untuk senyawa dengan dosis rendah.

Rute pemberian Obat  :
Bergantung kepada  :
    Tujuan terapi obat
    Sifat dari pada obat
    Kondisi penderita.

Pertimbangan  :
1.      Diperlukan efek sistemik atau lokal
2.      Kecepatan munculnya aksi dan lamanya kerja obat yang diinginkan.
3.      Stabilitas obat dalam cairan lambung atau cairan usus.
4.      Keamanan pemberian dengan bermacam rute.
5.      Kemampuan penderita; Menelan obat, Absorbsi obat secara oral
6.      Kenyamanan pemberian bermacam rute bagi penderita dan tenaga medis.
7.      Biaya pengobatan dengan bermacam rute pemakaian

Cara Pemakaian  :
Pemakaian topikal  :
    Pengobatan lokal pada kulit
    Pemberian oral : Absorbansia atau Adstrigensia.
    Pemakaian Bronkholitika dalam bentuk aoresol.
    Penyuntikan anestetika lokal.

Keuntungan  :
    Umumnya dosis lebih rendah.
    Kerja sistemiknya rendah.
Kerugian   :
    Bahaya alergi umumnya lebih besar.

Bentuk sediaan Padat pulvis – powder .
    Lesi akut atau sub akut  ;
*  menyerap kelembaban.
*  mengurangi friksi antara dua lipatan kulit.
    Sebagai bahan pembawa obat:
*  Anti fungal
*  Anti bacteri.

Bentuk sediaan Cair  :
    Preparat basah; kompres, rendam, mandi.
    Untuk menyejukkan; anti pruritik, membersihkan.

Lotion   :
    Sediaan cair dimaksudkan untuk penggunaan pada kulit tanpa gosokkan.
    Suspensi, solution, emulsi, mixtura agitanda.
    Glicerin; untuk mencegah efek pengeringan yang berlebihan .
    Alkohol untuk meningkatkan pengeringan lotion dan sifat pendingin.
    Penggunaan : pengobatan dematosis acute : Mendinginkan, mengeringkan, anti  peruritik , protektif.

Linimentum :
    Sediaan cair mengandung minyak atau alkohol.
    Solution, suspensi, emulsi
    Linimentum dengan dasar Alkohol, Rubetacient – digunakan dengan gosokan untuk nyeri otot ringan.

Semi solid  :
    Oint ment ( unguentum ) cream, pasta.
    Jelly
    Aerosal.

Pemakaian Parental.
            Penyuntikan Intra vasal / infus ( kebanyakan IV ).

Keuntungan  :
    Dapat diatur dosis yang tepat
    Bioavaibilitas  =  100 %, berkurang karena absorbsi bahan obat pada alat.
    Persyaratan larutan mengenai Isotoni dan isohidri lebih rendah dibanding IM  atau SC karena :
Pencernaan yang cepat dalam darah, Kapasitas daparnya besar.
    Bahan obat mencapai tepat kerja sangat cepat.

Bentuk Pemakaian IV .
    Terutama jika faktor waktu sangat penting : darurat ; pembiusan IV
Kerugian    :
    Biaya tinggi
    Beban pasien, takut.
    Resiko tinggi, Nekrose.
    Terlalu besar konsentrasi zat berkhasiat pada tempat kerja akibat penyuntikan yang terlalu cepat.
    Terjadi haemolisis setelah penyuntikan larutan yang pekat.
    Penyebaran bibit penyakit.
    Beban  psikologis                           senang.
takut
Pemakaian Oral
    Paling sering dilakukan karena;
=  bentuk obat yg cocok relatif mudah dibuat.
=  Kebanyakan pasien lebih menyukai cara ini.
    Tidak cocok untuk   :
=   bahan obat yg sulit di absorbsi
=   bahan obat yang sulit mengiritasi mukosa lambung.
    Dibuat sediaan salut yang tahan terhadap cairan lambung.

Pemakaian Rektal.
    Pasien cenderung muntah
    Kadar obat dalam plasma tidak mutlak diperlukan.
    Terdapat gangguan pencernaan bagian atas.
    Tidak dalam keadaan darurat.
Penggunaan  :
    Analgetika , anti pyretika pada bayi
    Pasien cendrung muntah.
    Terdapat gangguan lambung.
    Hindari pemakaian anti biotika

BENTUK SEDIAAN SETENGAH PADAT


Bentuk Sediaan Setengah Padat




Ø      PDU untuk obat luar
Ø      Untuk therapi / kosmetik / pelindung kulit.

Menurut karakteristik fisik-konsistensi dapat dibagi dalam tiga kelompok:
Ø      Cair kental / encer              : Linimentum.
Ø      Setengah padat                   : Unguentum, Cream, Pasta.
Ø      Lebih bersifat Padat            : Sapo Medicatus, Emplastrum.

Minyak/ lemak                          Linimentum                               Bahan Padat Pulvis
Air












Krim                                                                   Pasta










Dasar Salep
Unguentum


4.1 Linimentum = obat gosok

Ø      Sediaan kental / cair yg dioleskan / digosokkan pada kulit.
Latin, linere; gosokkan yg banyak, kontor iritan à Balsem dll.
Ø      Linementum dapat berupa  :
-  Larutan zat berkhasiat dalam lemak.
-  Emulsi dll  ( minyak + Air ditambah bantuan yg lainnya).

Keuntungan Linimentum dibanding Unguentum.
¨      Lebih mudah dicuci dari kulit, sehingga merupakan bentuk sediaan yang baik bila diberikan pada bagian kulit yang berambut dan juga kulit muka dan kulit bayi yang halus.
¨      Penetrasi obat lebih baik dari sediaan Unguentum.

Contoh   :
¨      Ganda pura  à  isi multi salisilat.
¨      Zink – Olie  = Pasta zinci oleosa
¨      BBE  = Benzylin  Benzoas  Emulsion.
¨      Linimentum Sulfuris
( Belerang + Minyak kelapa )
 20 %  + Follium Coccus  =  dipanaskan.

4.2 Unguentum  =  Salep.

Definisi   :       BSO  ½  padat
                        Mudah dioleskan tanpa kekerasan / pemanasan.
                        Bahan obat terdisporsi secara homogen
Ditinjau dari kegunaan dalam terapi, unguentum dapat dikelompokkan menjadi 3  :
1. Ungumentum Epedermis.
Ø      Untuk epidermis / kulit bagian luar.
Ø      Vetikulum ( pembawa obat ) vesilin atau campuran Hidrokarbon.
2. Unguentum Mukosa
Ø        Vetikulum  : vaselin + 10 % - 20 %  adeps lanae  ( lemak bulu domba )
Ø        Untuk mukosa (basah) : rectum, hidung, mata, mulut.
Ø        Agar > encer bisa ditambah paraffin liquidum atau minyak lain.
3.      Unguentum Endodermik
Ø       Bekerja > dalam dari permukaan kulit.
Ø      Vehikulum  =  Adeps  lanae, lanolin  dll.
Adeps lanae Com hidrucum ( menyerap air ).

Klasifikasi Ointment menurut Jenkin.

A.  Berdasarkan sifat penetrasi pada therapi.
1    Salep Epidermik.
Ø      Bekerja pada permukaan kulit.
Ø      Bersifat lokal, tak diabsorbsi
Contoh  : Protektan, anti septik ,anti infeksi, parasitida
2.   Salep Endodermik.
Ø   Obat berpenetrasi kedalam kulit.
Ø   Contoh : emollien (pelemas), stimulans ( perangsang pertumbuhan epitel), proliferan (memperbanyak sel), Iritan lokal (Metil salisilat).
3.   Salep Diadermik.
Ø      Melepaskan obat melewati kulit.
Ø      Bekerja sistemik.
Ø      Kesulitan mengatur jumlah obat yg diabsorbsi, saat ini penggunaannya belum luas. Misalnya   =  Velidin jelly  sebagai analgetika, Nitrodize pd iskemia kardia.

B.  Berdasarkan Sifat Farma Sentik
1.   Salep berbasis Minyak.
Ø       Lemak hewan
Ø      Minyak nabati
Ø      Hidro karbon
Ø      Silikon.
2.   Salep berbasis Emulsi
Ø      Emulsi                    O/W  (banyak air ).
Ø      Emulsi                    W/O  (banyak minyak).
3.   Salep berbasis Absorbsi
Ø      Basis Anhidrosus / basis hidrofilik.
-         adepslanae
-         hydrophilik pentrolatum
Ø      Basis W/O yang berisi sedikit air yang bisa menarik air
4.      Salep berbasis larut air

Syarat Vehikulum salep :
Ø      Indefferent
Ø      Tak berbau
Ø      pH netral
Ø      Tidak merangsang
Ø      Stabil pada penyimpanan
Ø      Tidak meninggalkan bercak.

Macam Vehikulum salap:
1.      Hidrokarbun
Ø      Vaselinum album (Vaselinum putih), Vaselinum flavum (Vaselinum kuning)
Ø      Paraffinum liguidum (Paraffinum cair), Paraffinum solidum (Paraffinum padat)

2.      Minyak nabati
Ø      Oleum : sesami (Minyak wijen), olivarum (Minyak zaitun), amygdalarum (Minyak amandel), arachidis (Minyak kacang), cocos (Minyak kelapa)
3.      Mingak hewan
Ø      Adeps (minyak bulu) : lanae (domba), suilus (babi) ancenirus (angsa)
Ø      Lanolinum
Ø      Cera (lilin lebah), flava, alba.

4.3 Cream =  Cremor  =  Krim

Definisi : Salep yang banyak mengandung air, sehingga memberikan perasaan sejuk bila dioleskan pada kulit.
Sebagai vehikulum dapat dipakai emulsi kental berupa:
            1. Emulsi W/O
            2. Emulsi O/W
Emulgator merupakan bahan pengemulsi, yang paling baik adalah yang bersifat non tonik karena tak bereaksi dengan bahan aktif.

Keuntungan  Cream   :
1.      Aplikasi mudah
2.      Mendinginkan kulit
3.      Mudah dibersihkan.
Kerugian  :
1.             Tidak stabil terutama bila kena asam organik ( As salisilat, As Benzonat, Asam tanat ) dan panas.
2.             Mudah mengering karena cairan menguap.
Indikasi   Cream  :
1.      Imflamasi akut
2.      Dermatosis luas
3.      Penetrasi (Emulgator tuwen, span)
4.      Daerah berambut (O/W)
5.      Kulit kering (W/O).

4.4 PASTA.

Ø      Sediaan setengah padat yang mengandung bahan padat : 40 – 50 %

Ø      Sifat:
-         Tak memberikan rasa “berminyak”
-         Sebagai bahan padat : zinci oxydum, calcii carbonas (kapur), amylum (pati), talcum (silikat)

Ø      Kelebihan Pasta:
-         Mengikat cairan sekret
-         Tidak iritasi lokal karena tidak penetrasi
-         Lebih melekat pada kulit
-         Mempunyai daya abrasif (daya menggosok) untuk pembersih gigi

Ø      Kekurangan pasta
-         Lebih keras dari pada unguentum sehingga sukar dioleskan dan kadang nyeri.
-         Sukar dibersihkan
-         Contoh : pasta lassari (anti septik), pasta dentrifrika (penyegar gigi)

Ad (+) s/d
Miss fact = campur & buat
S                      = Signa = tandailah(tulislah aturan pakai)
us. ext.             = use exsternus =
2 dd     = 2 X sehari
R/ neomycin
R/ Pasta lassari ad 20
m. f. pasta
Fue, 2 dd

4.5 Sapo  =  Sabun.

Definisi
Sediaan  ½  padat / cair untuk obat luar yang penggunaannya digosok sampai berbusa, dibiarkan sebentar lalu dicuci bersih.
Didapat dari proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi.
Tujuan
J     Anti septik
J     Anti ketombe
J     Anti akne
J     Anti jamur
Keuntungan:
            Daerah pengobatannya luas, bersih tak berbekas.
Contoh   :
1.      Sapo kalimas, sabun Hijau
J     Lemak, kuning kehijau-hijauan / kecoklatan
J     Mengandung Glycerin
J     Dibuat dari KOH + Minyak Nabati.
2.   Sapo Medicating
J     Keras kekuning-kuningan tidak mengandung Glicerin.
J     Dibuat dari Na OH + Minyak / Lemak meningkat.

Sapo Superadiparatus.dibuat dari sapo medicatus + 16 % Sapo kalimas + 4 % adeps lanal.
Sapo Superadipatus sering digunakan sebagai basis bagi bahan berkhasiat
J     Balsanum peruvianum                     Sabun Purol
J     Ichtyol                                            Sabun Ichtyol
J     Sulfur Precipitatum              Sabun Deosulfur
J     Phenol                                            Sabun Anti septik
J     Oxymercuri –O- Toluyl Natrium     Sabun Afridol.

4.6 Collemplastrum (Plester)

Definisi    :
Sediaan  ½  padat yang penggunaannya sebagai obat luar, dioleskan pada kain yang elastis , diaplikasikan pada kulit yang sakit.
Tujuan  :
J     Counter Irritant
J     Keratolitik
J     Anti septik
Contoh   :
J     Collemplastum ad clavos : mengandung Acidum Salicylicum konsentrasi tinggi (10-20%)sebagai keratolitik untuk clavus (katimumul).
J     Collemplastrum Zinci Oxydi : mengandung Zinci Oxydum sebagai antiseptik. Contohnya (Leucoplast).
J     Collemplastrum yang mengandung MethylSalicylas atau Oleoresin dari Capsicum untuk ditempelkan pada kulit guna mengurangi berbagai penyakit otot secara lokal (myalgia). Contohnya Salonpas.